Hadits Mutawatir

Pengertian Hadits mutawatir

menurut bahasa, mutawatir isim fa’il dari at-tawatur memilki makna yang sama dengan  mutabi’ yang artinya beriringan, berturut-turut atau beruntun.

Menurut istilah ialah : “hadits yang diriwayatkan oleh banyak orang, berdasarkan panca indsra, yang menurut kebiasaan mereka mustahil terlebih dahulu melakukan dusta / kebohongan, keadaan periwayatan terus menerus demikian mulai dari awal hingga akhir sanad”.

Syarat-Syarat hadits mutawatir

Dari definisi di atas jelaslah bahwa hadits mutawatir tidak akan terwujud kecuali dengan empat syarat berikut ini :

  1. Diriwayatkan oleh perawi yang banyak.
  2. Adanya konsistensi jumlah perawi pada setiap thabaqat. Artinya jika salah satu dari tingkatan tersebut ada yang tidak mencapai jumlah minimal yang ditetapkan, maka sanad tersebut tidak dikatagorikan sanad mutawatir, tetapi disebut sanad ahad.
  3. Jumlah perawinya harus mencapai suatu ketentuan yang menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat untuk dusta. Dalam hal ini para ulama’ berbeda pendapat tentang berapa jumlah perawi minimalnya, ada yang mengatakan minimal 10, 12, 20, 40, dan ada yang mengatakan minimal 70 orang. Imam As-Suyuthi memilih yang pertama, yakni 10 orang.
  4. Sandaran hadits yang disampaikan harus berdasar tangkapan panca indera. Biasanya dalam periwayatannya memakai : kami telah mendengar (سمعنا) , atau kami telah melihat (راينا) . Adapun jika sandaran mereka dengan menggunakan akal, maka tidak dapat dikatakan sebagai hadits mutawatir.

Pembagian Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir terbagi menjadi tiga bagian, yaitu :

1. Mutawatir Lafdhy yaitu hadits mutawatir yang lafadz dan maknannya sama. Misalnya hadits (yang artinya). Menurut Ibnu Sholah yang pendapatnya diikuti Imam An-Nawawi bahwa hadits mutawatir lafdzi sedikit sekali jumlahnya dan sulit diberikan contohnya kecuali hadits :

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده في النار

”Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku (Rasulullah SAW.) maka hendaknya menempati tempat duduknya di api neraka”.

Urutan perawi hadits diatas antara lain adalah sebagai berikut :

Contoh sanad Hadits Mutawatir

Menurut Zainuddin Al-Iraqi, hadits ini (selafadz) telah diriwayatkan lebih dari 70 orang shahabat, tapi yang semakna dengan hadits ini diriwayatkan oleh 200 orang sahabat sebagaimana yang dikatakan Imam An-Nawawi.

2. Mutawatir Ma’nawy adalah hadits mutawatir yang berasal dari beberapa hadits yang diriwayatkan dengan lafadz berbeda tetapi apabila dikumpulkan mempunyai makna umum yang sama. Misalnya, hadits-hadits tentang mengangkat tangan ketika berdoa.

ما رفع رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه حتى رؤي بياض ابطيه في شيئ من دعائه الا في الاستسقاء

Artinya:

Rasulullah tidak mengangkat kedua tangan beliau sampai nampak putih putih kedua ketiak beliau dalam doa-doa beliau, kecuali doa shalat istisqa’ (HR. Bukhari Muslim)

Menurut penelitian al-Syuyuti Hadits yang semakna dengan hadits ini telah diriwayatkan dari Nabi sekitar 100 macam hadits tentang mengangkat tangan ketika berdo’a dalam berbagai kesempatan. Dan setiap hadits tersebut berbeda kasusnya dari hadits yang lain. Sedangkan setiap kasus belum mencapai derajat mutawatir. Namun bisa menjadi mutawatir karena adanya beberapa jalan dan persamaan antara hadits-hadits tersebut, yaitu tentang mengangkat tangan ketika berdo’a.

3. Hadits Mutawatir Amali adalah : Amalan agama yang dapat diketahui dengan mudah, dan telah mutawatir diantara kaum muslimin (mulai dari para sahabat, tabi’in dan seterusnya sampai pada generasi kita sekarang) bahwa nabi mengerjakannya atau memerintahkannya. Misalnya tentang jumlah rakaat dalam shalat fardhu yang lima, sholat janazah dan shalat aid adalah merupakan hal hal yang diperintahkan agama dan selalu dikerjakan sejak masa nabi, para sahabat dan dilanjutkan dari generasi ke generasi berikutnya

 

4. Hukum Hadits Mutawatir

Mayoritas ulama’ berpendapat bahwa keyakinan yang diperoleh dari hadits mutawatir, sama kedudukannya dengan keyakinan yang diperoleh melalui kesaksian langsung dengan panca indra, oleh karena itu ia berfaidah sebagai ilmu dharuri (pengetahuan yang mesti diterima), sehingga membawa keyakinan yang qat’i. oleh karena itu petunjuk yang diperoleh dari hadits mutawatir wajib dilaksanakan.

Sumber  :

  1. Ilmu mustholah Hadits Oleh Drs. Moh Anwar Bc. Hk
  2. Pengantar Study Hadits. M Nawawi, penerbit Kopertais IV Press (2011)

Posted on 22 April 2012, in UMUM and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: